Kamis, 14 Juli 2022

SECURE

Sempat ingin mati rasa saja, karena takut sakit (lagi) sebagai upaya menjaga dan menyelamatkan diri. Tapi ternyata bukan itu jawabannya, ada hal yang lebih layak untuk dijalankan dalam hidup agar tidak sia-sia. Aku sedang enjoy dengan diriku, bagaimanapun ujungnya aku tidak perlu lagi kisah yang 'sempurna', aku belajar untuk tidak ngoyo atas hal-hal yang bukan kendaliku. Bebanku ternyata ringan, yang memberatkannya adalah pikiran dan hatiku yang sedang sakit dan salah kaprah. Sempat aku mencari jawabnya pada orang lain, dan yang kudapat pun adalah pelajaran lain karena memang tidak ada korelasinya. Sampai dititik cape, merasa tidak ada yang mengerti dan menutup diri. Untuk sampai dititik sadar dan menerima semuanya melalui proses, bahkan sekarang pun masih berproses, naik turun pun masih ada dan bagiku itu normal. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana aku selalu mau belajar dan mampu mengendalikan diri, merasa cukup dan secure. Sehingga bagaimanapun yang terjadi kedepannya aku bisa survive dan waras dengan menjalankan hidup yang didalamnya aku merasa enjoy dan bersyukur.

Rabu, 29 Juni 2022

Emosi

Lebaran beberapa tahun terakhir ini cukup membuatku sentimen, beberapa kondisi membuatku hampir kehilangan kendali. Rasanya ada saja pernyataan, pertanyaan dan prilaku dari luar yang membuatku terusik dan bahayanya aku menjadi berpikiran negatif dan tidak jarang menyalahkan mereka atas apa yang terjadi hingga aku menarik diri dari mereka tanpa berusaha memahami bahwa mereka secara segaja ataupun tidak sengaja memiliki tujuan untuk menyakitiku atau membuatku tidak nyaman. Tapi sampai kapan aku akan menyikapi dengan cara demikian, pikiran yang dipenuhi hal negatif terhadap orang lain, merasa tersakiti, menarik/membatasi diri yang berlebihan bahkan menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi hanya akan menambah beban pikiran tanpa menyelesaikan apapun. Cukup ya nis memikirkan hal yang tidak membuat tumbuh lebih baik, pelan-pelan belajar fokus mengendalikan respon dengan tenang dan bijak terhadap hal-hal tadi ataupun hal lain yang kemungkinan terjadi kedepannya. Akhir-akhir ini aku sedang menyukai dan memahami stoikisme tentang menjadi pribadi yang simple dan apa adanya tapi baik dan bermanfaat, bahagia yang bergantung dari dalam diri, paham bahwa segala sesuatu ada sistem dan tujuannya serta kita hanya perlu menjalankan fungsi kita sebagai manusia. Aku baru mengenal filsafat ini dan sedikit banyak aku mulai menyadari bahwa aku terlalu banyak berpikiran atas hal yang tidak perlu, hal yang diluar kendali, memperumit diri dan keadaan hingga akhirnya stress dan tidak fokus kepada hal yang penting dan kepada hal yang bisa dikendalikan oleh diri sendiri. Setiap manusia diberi emosi, bagaimana emosi itu dikelola entah ke arah negatif atau positif tergantung pada manusia itu sendiri. Adakalanya situasi menjadikan emosi naik turun, tapi itu tidak selalu buruk selama emosi itu masih dibawah kendali kita. Karena jika emosi sudah diluar kendali diri, dia akan liar yang akhirnya tidak jarang mengarah kepada penyesalan. Sejauh ini dari stoikisme aku belajar memahami diri, dan ternyata memahami diri itu sulit tapi dengan mengenali diri dan memahami emosi diri itu pelan-pelan membawa kepada pribadi yang berpola pikir dan bersikap apa adanya dan sederhana (tidak lebay) dalam artian berfokus kepada hal-hal yang bisa dikendalikan diri, jadi ketika suatu kondisi mengarah kepada emosi negatif (misal: berpikir menyalahkan orang lain atau berekspektasi kepada orang lain) pelan-pelan mengendalikan emosi tersebut dengan memberi ruang untuk berpikir dan mengenali emosi tersebut kemudian meresponnya (misal penyelesaiannya dengan cara berpikir bahwa menyalahkan orang lain tidak menyelesaikan masalah dan kalau pun orang lain yang salah, hal itu tidak perlu membuatmu terus-terusan menyalahkannya, bahkan sampai dendam dan stress sendiri karena kesalahan orang lain bukan berada dibawah kendalimu dan yang ada dikendalimu itu adalah pikiranmu untuk tidak berpikir demikian dan begitupun penyelesaian emosi negatif terhadap berekspektasi kepada orang lain). Dan malam tadi bolehlah ya aku berbangga kepada diri sendiri, yang pelan-pelan ada keberanian untuk berbicara hal yang selama ini cukup “menakutkan” dan “mengkhawatirkan” bahkan membuatku cukup stress dan muak, setidaknya aku melakukan yang berada dibawah kendaliku dan sisanya entah pembicaraan itu membawanya pada pergerakan atau tidak itu sudah bukan dibawah kendaliku.

Minggu, 27 Februari 2022

Flashback

Hari ini udah masuk akhir bulan februari 2022, flashback setahun yang lalu banyak hal terjadi diluar dugaan. Naik turunnya luar biasa, bersyukur aku diberi kesehatan dan kewarasan dalam menjalaninya meskipun dalam prosesnya masih banyak ngeluh dan emosi yang liar huhu. 
Di tahun 2021 aku banyak belajar tentang diri sendiri, membaca, memahami dan mencintai diri. Terutama kesehatan, sepertinya 2021 jadi tahun yang paling banyak aku menghabiskan waktu di RS (lebih tepatnya yang lama nunggu antrian). Bukan karena sakit, tapi aku memanfaatkan waktu luangku untuk memeriksa/merawat kesehatan diri. Bersyukurnya sesuai rencana, kini setelah prosesnya selesai dan di tahun 2022 aku bisa fokus kerja dan upgrade diri lagi.
Di tahun 2021 juga aku bertemu hal-hal random yang sangat diluar dugaan yang cukup mengusik ketenanganku juga orang rumah, sampai untuk membuka jendelapun kami khawatir dan pintu selalu dikunci. Mungkin ini cara Allah ngingetin supaya kami lebih hati-hati dan waspada.
Tahun 2021 adalah puncak dimana aku malas sekali ketemu/komunikasi dengan orang-orang kecuali orang terdekat dan itupun bisa dihitung jari. Waktu itu rasanya aku ingin menghilang dan tidak ingin terlihat. Dan entah apa rencana Allah, tahun ini (2022) aku malah kerja dilingkungan yang mengharuskan aku banyak ketemu/komunikasi dengan orang banyak. Apapun dan bagaimanapun itu, aku yakin Allah pasti punya rencana yang terbaik. 

Selasa, 14 Desember 2021

Adilnya Ketidakadilan Dunia

Sore ini terjadi perdebatan antara adik kakak yang saling mengiri dalam konteks bercanda, kami saling lempar dan mentertawakan apa yang selama ini cukup meresahkan dalam menjalani hidup. Kami tertawa, tapi hati kecilku agak ngilu.

"ahaha kasihan bla bla bla"

"lebih kasihan lagi aku bla bla bla"

"Ahaha bla bla bla"

Bukannya ingin dikasihani karena keadaan, ketidakadilan atau kejamnya dunia. Bukankah dunia begitu pada setiap orang, bukan pada aku atau kamu saja. Karena begitu mari berhenti berpikir kalo dunia harus maklumin diri ini untuk terus terpuruk dan bahkan tidak berkembang, setiap orang memiliki permasalahan sepaket dengan keistimewaan dalam porsinya tersendiri.

Kadang berat memang, tapi jangan putus asa. Masih banyak hal lain yang patut disyukuri, dibandingkan terus meratapi hal yang sudah terjadi tanpa berbuat apa-apa dan bahkan jangan sampai berbuat menyakiti atau merugikan diri sendiri maupun oranglain. Meskipun kadang pengalaman tidak selalu membuat berani dan kadang seringnya membuat takut dan lebih berhati-hati untuk berbuat atau melangkah.

Pemikiran seperti ini tidak jarang naik turun, tapi ketika sedang turun tolong ingat untuk tidak menyerah pada keadaan. Yakinlah pasti bisa melewatinya, jalani dan ikhtiarkan yang terbaik. Ambil hikmahnya. Semangat ^_^ 

Senin, 06 Desember 2021

Biar Waras

Barusan nonton live IG Ci Feli @feliciaputritjisaka, ada salah satu kalimat yang bikin lumayan kepikiran dan agak nyangkut dikepala kurang lebih begini "kalo kamu emang mau bertahan ya kamu harus adaptif dengan hal itu, dan kalo kamu ga sanggup ya kamu pergi" ini dalam konteks apapun entah kerjaan, keluarga, relationship, pertemanan, keadaan atau apapun itu. Dan tiba-tiba kepikiran apa yang terjadi ketika suatu hal pergi atau keluar dari hidup aku apa itu berarti dia juga menganut atau berprinsip seperti itu ya? apa gitu ya? gitu ga sih? lah kalo iya emang kenapa? ya gapapa, sebenernya ya ga gapapa sih, tapi ya gimana itu sesuatu diluar kehendak aku, ya gimana dong? 

Ya ga gimana-gimana, fokus aja sama diri, fokus aja sama hal yang bisa dikerjain yang membuat diri produktif dan tumbuh sehat. Jangan kebanyakan mikir yang diluar kehendak atau diluar kemampuan, kalo kebanyakan bikin nyalahin keadaan dan itu ga ngubah apapun menjadi lebih baik. Banyakin bersyukur, bersyukur atas hal-hal yang dimilikin saat ini dan gali potensi diri lalu jadikan dorongan supaya makin maju. Mulai pelan-pelan aja, biasain dari hal kecil yang baik. Biar waras. Semangat, selalu.

Sabtu, 27 November 2021

Malam Ini

 “Waktu Tuhan pasti yang terbaik, walau kadang tak mudah dipahami” by @positif.quote

Waktu, apa yang aku pikirkan dari waktu hingga mengutip salah satu qoute yang kebetulan muncul di explore instagramku? Ya sepertinya aku berharap waktu terbaikku. Apa saat ini bukan waktu terbaik? Bukannya setiap waktu sama saja, sama-sama berharga, sama-sama tidak bisa diulang dan maka dari itu harus melakukan yang terbaik disetiap waktu. Tapi apa yang aku lakukan, aku rasa aku belum melakukan yang terbaik diwaktuku. Aku hanya bersantai-santai menunggu waktu terbaik dari Tuhan datang, bukankah seharusnya berikhtiar lebih fokus dan lebih konsisten lagi kemudian bertemu dengan waktu terbaik dari Tuhan. Jadi ini bukan masalah waktu, tapi masalahnya ada pada diriku sendiri. Lagi-lagi.

Malam ini sepertinya adalah waktunya dan lagi-lagi aku dikait-kaitkan. Yang berbeda kali ini aku merespon lebih objektif. Mungkin ini bukan respon yang beliau harapkan, tapi aku harus. Dan semoga ini yang terbaik untuk semuanya. Maaf untuk beberapa hal mengecewakan, mungkin ini prosesnya. Beberapa hal memang terkadang sulit dipahami, bahkan harus salah paham dulu. Eh entah salah paham atau memang ego yang memutuskan untuk tidak paham, meski sebenarnya paham betul. Hal yang seharusnya sederhana menjadi rumit karena adanya ego, sehingga semuanya terdampak bahkan terluka.

Dari semua yang terjadi pasti di atas izin Allah, diwaktu yang Allah sudah aturkan. Berhenti menyalahkan orang lain dan berhenti menyalahkan diri sendiri, belajarlah memaafkan.

“Memaafkan itu bukan berarti aku maafin kamu dan life goes on, memaafkan itu buat diri sendiri karena kita layak untuk tidak tenggelam dalam emosi dan juga rasa sakit yang sudah diberikan orang lain kepada kita” by Cinta Laura

Selasa, 09 November 2021

Dear, myself


Banyak hal yang sudah terjadi, aku bingung mulai berkisah dari mana. Saat ini yang pasti aku merasa aku sedang belajar mencintai diriku sendiri, belajar ridha dan memasrahkan apa yang menjadi takdir dan nasibku. Beberapa waktu terakhir aku terlalu sombong dan terlalu keras kepala, hingga lupa bahwa aku hanyalah makhuk yang Allah ciptakan pasti dengan suatu tujuan. Lalu kenapa aku masih ngeyel ingin hidup sesuai sekenarioku, padahal semuanya sudah Allah aturkan dan aku hanya perlu berusaha dan berdo'a seoptimal dan semaksimal mungkin serta menjadi makhluk yang senantiasa belajar dan memperbaiki diri, sehingga menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu. Entah berapa lama lagi waktu dan kesempatanku didunia ini, semoga sisa waktuku bermanfaat, berkah dan tidak sia-sia. Aamiin.

Melalui bisikan jemariku ini, semoga memberi manfaat terkhusus untukku menjadi pengingat diri. Dulu aku nulis diary, merekam suara, atau sekedar curat-coret mencurahkan apa yang ada dipikiran dan hati, kini ketika ku coba membaca atau mendengarnya kembali ada suatu hikmah yang mengingatkan diri bahwa aku berproses melalui beberapa hal yang jika suatu waktu kemungkinan menghadapi situasi yang kurang lebih sama, aku harus bisa lebih baik dan lebih bijak menghadapinya.

Dear diriku dimasa depan, kamu mampu, kamu kuat, kamu berharga, kamu layak. Jadi, tidak perlu cemas mengahadapi hidupmu. Percaya dirilah, berdiri diatas kakimu sendiri, jadilah wanita mandiri! Tidak apa-apa sedih, tidak apa-apa nangis, tidak apa-apa cape, selalu semangat. I love you and thank you :)