Minggu, 26 Mei 2019

Antara Yogjakarta dan Bandung

Jawa Tengah, 19 Agustus 2018.

Hari ini aku sedang dalam perjalan pulang menuju Bandung dari Yogjakarta, duduk di dekat jendela kereta api jurusan Lempuyangan-Bandung membuatku ingin menyusun kata-kata selagi masih hangat ingatan di Yogjakarta. Aku mulai saja ya.

Finaly, aku naik kereta. Seumur hidup hampir dua puluh tiga tahun ini baru kali ini aku naik kereta *Norak ya (biarin). Kenapa? Karena sebelumnya tidak pernah ada tujuan yang membuatku mengharuskan naik kereta. Kok sekarang naik kereta? Karena aku ada tujuan pergi ke Yogjakarta bersama teman-temanku dalam rangka mencari pengalaman dan 'liburan', meliburkan diri dari kepenatan, stress dan beberapa hal sepertinya membutuhkan refreshing agar kembali fresh. Meskipun sekarang kantong yang minta diisi lagi. Bukan untuk foya-foya yeeeeeesss =D

Aku, Rhiea, Teh Sani dan Teh Winy. Di Yogja kami pergi ke Malioboro, Alun-alun kidul, Alun-alun Utara, Kraton, Musieum Benteng Vredeburg, Taman Sari, Sindu Kusuma Edupark, Tugu Yogjakarta, Situs Warung Boto dan tidak lupa kuliner di angkringan-angkringan dan Raminten. Masih banyak yang ingin kami kunjungi, hanya saja dalam waktu tiga hari dua malam plus perjalanan itu hanya tempat-tempat tadi yang bisa/sempat kami kunjungi.

Senang dan seru sekali, hanya saja waktu yang singkat membuat kami terburu-buru sehingga kurang menikmati disetiap tempat. Semoga saja kedepannya ada rejeki dan kesehatan lagi untuk bisa berpetualang dengan teman-teman dan terutama dengan keluarga.

Nyebut kata keluarga jadi rindu rumah nih, lagi apa ya si bungsu? *teteh kangen (padahal dua hari dua malam doang ga ketemu, eh empat hari empat malam deng, karena aku nginep di rumah teh Winy di hari sebelum dan setelah perjalanan ini *maklumlah aku tinggal di Bandung Selatan yang agak ujung alias di Ciparay, ditambah ga ada yang suka rela antar jemput haha *curcol. Ada sih adik atau bapak tapi kasian kalo harus antar-jemput subuh-subuh dan malam-malam.

Besok pun aku lansung masuk kerja, fight for me :) Semoga segala sesuatunya makin baik. Aamiin.

Aku dan teman-teman berangkat tanggal 17 agustus dan pulang tanggal 19 agustus. Sebenernya sih agak galau, karena harus ninggalin kampung tercinta dan ga bisa bantu-bantu memeriahkan 17an. Bukannya so sosial, tapi dikampungku emang lagi pada diluar kota jadi untuk ukuran pemuda-pemudinya agak sedikit. Selain itu ada dua teman yang nikah juga diantara tanggal itu. Dan dari semua gejolak batin yang terjadi, aku tetep pergi ke Yogja dong =D

Yogja bagiku istimewa, tapi Bandung bagiku tetap juara ❤

Sabtu, 21 Juli 2018

Petjah

Rumah, 21 Juli 2018

Pagi tadi aku menyeduh kopi, baru berapa teguk gelasnya tersenggol olehku. Ah sial. It's oke semua baik-baik saja dalam pikirku sambil mebersihkan pecahan gelas dan tumpahan air kopi.

Malam ini, aku bergetar hebat melihat apa yang ku temukan. Lidahku kelu, banyak hal yang ingin dan harus aku utarakan tapi dengan emosi seperti itu apa aku mampu mengelola emosiku. Aku putuskan diam dulu dan mencoba menguasai diri dari emosi sebelum ada yang meleleh dimataku. Aku tahu mungkin ini pantas disebut pengecut, tapi tunggu. Itu yang terbersit dalam benakku. Dari pada bertindak gegabah dan konyol. Egois? Sepertinya iya. Tapi banyak hati yang harus ku jaga. Tapi hatiku sendiri bagaimana? Biarlah, aku punya Allah disaat tak ada orang yang bisa ku ajak untuk bicara.

Hal yang selama ini aku cari, aku sudah mendapatkan jawabannya. Maski masih serpihan, tapi aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri kenyataanya.

Ya Allah kuatkan hamba!

Jumat, 20 Juli 2018

Bagaimana ini?

Rumah, 20 Juli 2018
Seperti biasa, aku lebih memilih jalan yang agak sepi, namun lebih banyak penghijauan meskipun agak 'jelek' dibanding jalan utama yang lumayan mulus namun selalu ramai. Bukan tidak suka keramaian, hanya saja kondisi jalan yang agak sepi membuatku bisa pulang sambil berpikir panjang dan menikmati perjalanan dengan napas yang cukup lega setelah lumayan sesak sehabis kerja seharian.

Namun, dijalan yang biasa kulewati ada pemandangan yang berbeda. Dimana biasa ku lihat dua orang anak, yang satu laki-laki dan yang satu perempuan (lebih tua beberapa tahun dibanding adiknya, pikirku). Setiap aku lewat jalan tersebut, aku selalu melihat wajah-wajah murung dengan karung dan pakaian yang cukup memprihatinkan. Terbersit dalam benakku, dimana kedua orang tua mereka? Bagaimana bisa membiarkan anak-anaknya seperti ini? Bagaimana bisa ada dilingkungan seperti ini? Anak yang seharunya berada dibangku belajar dan dalam pengawasan orang tuanya, bagaimana bisa terlantar begini.
Kali ini yang menarik dan membuat hatiku terasa perih, dua anak itu tengah duduk layaknya mohon maaf 'pengemis' liat sana-sini dengan karung didepannya. Sedang dua anak perempuan dengan penampilan bersih dan gaya berada di samping mereka tengah berdiri dan memakan eskrim entah susu.
Hatiku ngilu, apa dunia sekejam ini?
Apa mereka tidak lebih baik berjualan saja? Apa sungguh ini pilihan terakhir? Pikirku. Disisi lain pikirku menjawab, modal dari mana? siapa yang akan mempercayai mereka untuk menjualkan barang orang lain? Apalagi dengan 'penampilan seperti tadi'.
Aku merasa selama ini kurang bersyukur terhadap apa yang kumiliki, apalah arti beban hidupku dibanding beban hidup mereka. Sekecil itu dan diusia itu mereka harus menanggung beban hidup, terlebih pandangan sekitarnya yang menjadikan mereka terpinggirkan.
Ini masalah, aku masih belum bisa berbuat apa-apa meski hatiku ngilu melihatnya. Bagaimana ini?

Minggu, 15 April 2018

Yes I Have

Rumah, 07 April 2018

-mendingan disabled but still want to function dibandingkan perfect but doing nothing with your life. Boy William~

Right, setuju banget sama pernyataan Boy William about it. Deuuh ngomongnya jadi campur gitu, biarin dah ngomong sendiri ini. Lagian udah lama ga berkata-kata pake bahasa inggris, sambil mengingat-ingat lagi materi yang dulu pernah dipelajarin. Keburu lupa dilebur waktu kek mantan,
nah loh mantan kaya yang punya mantan aja :p

Kembali ke pernyataan aa Siwon versi Indonesia (bagi aku sih aa Boy mirip aa Siwon), beuuuh AA haha biarin dah suka-suka wkwk. Membaca pernyataan itu, aku jadi berkaca sendiri. Aku adalah seorang Anis yang banyak kekurangan dan keterbatasan, karena hakikatnya ketidakterbatasan hanya milik Allah. Membaca pernyataan itu, aku ingat betul apa yang ada di diri ini. Keterbatasan, kekurangan, kelebihan dan hal-hal biasa atau luar biasa lainnya yang ada pada diri ini, secara emosi atau secara fisik. Ada yang menjadi takdir dan ada yang menjadi nasib bagi setiap makhluk. Apapun yang Allah titipkan melalui takdir itu entah itu 'perfect' or 'disabled', itulah yang harus kita terima, entah itu oleh orang yang memiliki takdir itu sendiri ataupun makhluk lainnya. But, aku pikir yang utama adalah penerimaan secara ikhlas dari orang yang menerima takdir itu. Seberapapun orang disekitarnya menolak atau menerima keberadaan si penerima 'takdir' itu tidak berpengaruh jika si penerima 'takdir' sudah ikhlas dengan takdirnya. Ketika menerima penolakan, cemoohan atau bahkan hinaan atas takdir 'itu', pasti akan ada rasa sakit. But, tidak masalah selama itu tidak merugikan orang lain dan kita masih tetap bisa beramal (habluminannas wa habluminallah).

Like me, i have disabled. Dulu aku pernah bahkan sering merasa ga ikhlas. Why? Kenapa harus aku? Tapi sekarang aku sudah tau jawabannya. Karena semua yang ada didunia atau pun diakhirat adalah ciptaan Allah, semua milik Allah. Cantik, tampan, sempurna, terbatas dan hal lainnya. Itu semua ciptaan Allah, lalu apa hak kita sebagai yang diciptakan menghakimi pencipta dengan berontak tak menerima takdir itu, yang tentu semuanya yang ada pada diri merupakan titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Lalu apa yang pantas disesalkan dan disombongkan ketika diri ini bukan milik kita sendiri?

Adalah hak Allah menciptakan makhluknya seperti apapun juga, sebagai makhluk kita hanya perlu mengiklaskan takdir yang tertulis untuk kita dan mengikhtiarkan nasib kita agar selalu menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Meskipun dalam prosesnya tidak mudah, disanalah letak kualitas kita sebagai makhluk.

So, apapun yang ada pada diri ikhlaskanlah dan upayakan yang terbaik. Karena detik ini tidak akan terulang, setiap detik kita adalah pengalaman pertama dan terakhir dalam hidup. Apapun kata orang, bagamanapun perlakuan orang terhadap kita, entah itu penerimaan atau penolakan. Percayalah jika kita melakukan yang terbaik pada detik itu, kita tidak akan menyesal diwaktu kapanpun.

Pada intinya, teruntuk diri ini semoga bisa dan selalu ikhlas dengan takdir Allah. Jika seseorang bertahan dengan kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirimu, maka bersyukurlah. Jika seseorang itu pergi karenanya, maka bersyukur lebih banyak lagi. Karena kamu tidak hidup untuk diciptakan sempurna untuknya dan tujuannya terhadapmu tidaklah tulus, ingatlah kamu diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Jangan menjadi musyrik oke 👌


#anisreminder

Minggu, 28 Januari 2018

2017


Rumah, 26 Desember 2017
Assalamualaikum ^^
Long time no write, apakabar diriku? Apa kabar cita-citaku? Apa kabar amalanku? Dipenghujung tahun ini, sudahkah lebih baik dari yang lalu? Pada tahun ini sangat banyak kejadian yang berarti dihidupku, dari hal yang membahagiakan sampai hal yang teramat menyakitkan. Ya begitulah keseimbangan hidup.
Alhamdulillah aku telah menyelesaikan kuliahku di jenjang S1, telah ku lewati salah satu perjalan yang insyaallah akan menuntunku ke arah yang lebih baik dihidupku dan harapanku semoga ilmuku bermanfaat bagi diriku, orang tuaku, keluargaku, lingkunganku, agama dan bangsaku.
Aku lulus tepat di tanggal 15 Juli 2017 dan wisuda pada tanggal 26 Agustus 2017, semuanya penuh makna. Perjalanan menuju lulus itu ternyata tidak semudah ataupun sesulit yang aku bayangkan, dari mulai pengajuan judul, seminar proposal, ganti judul, mulai lagi dari awal, bulak-balik dinas, bulak-balik koperasi, bulak-balik dosen, bulak-balik perpus, panas atau hujan juga dilabas wkwk dirumah pun yang di otak atik hanya laptop sampai-sampai tidurpun disebelah laptop dan saking so sibuknya tidak jarang makan pun sampai dianterin kekamar sama mamah. Huuuuuh finally, i’m graduate dengan yudicium skripsi A dan meskipun IPK cumlaude nya pas-pasan 3,58 huhu.
But, dibalik pencapaianku itu. Pada tahun ini pula aku kehilangan dua ua, Ua Eti dan Ua Imas yang hanya terpaut empat bulan saja. Luka kehilangan Ua Eti belum kering pun empat bulan kemudian disusul Ua Imas, aku dan keluarga teramat kehilangan mereka. Aku ingat betul, setiap Ua Eti punya atau panen nangka, Ua selalu menyisihkan dan memberikan nangka buatku karena Ua tau banget aku suka nangka dan begitupun Ua Imas, kalo punya jengkol, Ua selalu memberikan jengkol buatku karena Ua tau banget aku suka banget jengkol dan aku suka bilang sama Ua ketika Ua ngasih jengkol “Ua, Anis mah kalo makan sama jengkol teh suka ga mau berhenti makan” si Ua suka tertawa. Kangen Mereka. Ya Allah, Ampuni dosa Ua Eti dan Ua Imas dan terimalah segala amal ibadah mereka, kami menyayangi mereka Ya Allah. Aamiin Yaa Rabb!
Menjelang tahun baru, banyak hal yang harus aku persiapkan dan harus aku mantapkan. Dari mulai target pribadiku dan juga kerjaanku, Bismillah semoga diberi kemampuan, ditepatkan, dan dilancarkan serta dimudahkan segalanya. Aamiin yaa Rabb!
Sekian dulu ya jemariku berbisik, wasalam ^^

Minggu, 04 Juni 2017

Harga Dirinya Terluka, Kebanggaannya Berdarah dan Cita-citanya Punah

Assalamualaikum.
Ditengah-tengah nyekrpsi tiba-tiba dateng inspirasi sekaligus unek-unek
yang sudah tidak tahan ingin di share. Langsung saja yaa... Semoga bermanfaat!

Seharusnya para suami paham mengapa istrinya tidak secantik dulu, tangannya tidak selembut dulu, kulitnya tidak sekencang dulu atau bahkan tidak semenarik dulu.
Alih-alih membahagiakannya, malah menyakitinya. Padahal dibalik perubahan 180 derajat secara fisik itu, tumbuh anak-anak yang lucu dan sholeh, rumah yang nyaman untuk ditinggali, masakan yang selalu siap sebelum dan sepulang suami kerja, pakaian yang sudah rapi setiap kali hendak dipakai. Hingga sering bias antara tugas istri dan pembantu.
Setelah pengorbanannya melepaskan karir yang tengah berada dipuncak dan atau keluar dari zona manja sebagai anak perempuan ayah dan ibunya, masihkah pantas suami kecewa padanya atas telah "tidak menarik lagi"nya istri atau bahkan tergoda wanita lain yang entah dari mana asalnya dan tiba-tiba memikat hati suami yang menurutnya "menarik lebih dari istrinya".
Bukankah yang selalu ada, mendukung dan mendampingi dari nol bahkan dari minus hingga dipuncak adalah sang istri. Dalam keadaan apapun baik senang maupun duka istri selalu ada, bukan dia tidak mampu berdiri sendiri atau menikmati fasilitas dan kasih sayang dari ibu dan ayahnya. Namun berkat rasa cinta dan tanggungjawabnyalah yang membuatnya bertahan, dan tentu dengan keyakinan bahwa bersama sang suami dia mampu melewati segala ujian yang sedang dialami atau yang akan terjadi kedepannya. Terkecuali hati sang suami yang diluar kendalinya, ketika istri dan suami bisa menghadapi segala ujian, namun yang bisa menghadapi ujian dari wanita lain tetaplah suami sendiri, tergantung dari suami bisa menghadapi atau kuat atas godaan itu. Jika suami tergoda wanita lain dengan alasan sang istri yang sudah tidak "menarik" dan "membosankan" atau alasan lainnya, itu hanyalah ALIBI. Suami seperti itu hanya mencari pembenaran dan pembelaan dirinya sendiri. Betapa merusaknya suami seperti itu atas keluarganya, dia tidak hanya menyakiti istrinya namun juga anak-anaknya. Terutama bagi anak perempuannya, bagi anak perempuan ayah adalah cinta pertamanya. Betapa bangganya sang anak menceritakan sang ayah yang amat menyayanginya kepada teman-temannya, terlebih kepada calon suaminya kelak. Sang anak akan membaggakan ayahnya yang begitu menyayangi ibu dan keluarganya, hingga dia bercita-cita kelak akan mempunyai suami yang seperti ayahnya. Baginya ayahnya adalah harga dirinya. Lalu, apa yang terjadi apabila ayahnya mengkhianati dan menyakiti ibunya? Harga dirinya terluka, kebanggannya berdarah, cita-citanya punah dan kepercayaannya terhadap lelaki rusak serta berbagai tekanan batin lainnya. Tidak sadarkah sang ayah atas perlakuannya? Betapa banyak orang yang terluka atas perlakuannya.
Keluarga bahagia yang dibangunnya, perlahan retak dan runtuh. Hanya karena pertahanannya terhadap godaan begitu lemah. Tidak jarang ditemui kasus seperti ini, bahkan dikeluarga atau pun tetangga. Hati merasa miris dan teriris. Lalu sampai kapan penderitaan itu berakhir? Jawabannya adalah sampai para suami sadar dan tidak melakukannya lagi.
Salam.

Kamis, 01 Juni 2017

Be Strong!!!

Assalamualaikum Juni.
Banyak hal dalam benak yang ingin ku ceritakan.
Banyak yang telah terjadi, dan entah berapa banyak lagi yang akan terjadi yang akan mampu aku lalui.
Aku disini, mencoba untuk selalu tegak berdiri dan tegar menghadapi segala yang didepan mata.
Janji yang kubuat pun ku ingkari sendiri, air mata yang ku bendung sudah tak tertahan lagi. Ketika ku sendiri, air mata ini perlahan dan diam-diam menetes hingga deras.
Ingin ku berteriak, sekedar melepaskan yang mengganjal dihati. Haruskah aku?
Aku coba pahami ketika bijakku datang, bahwa tidak ada yang salah dalam kejadian ini, jadi aku tidak akan menyalahkannya atau pun menyalahkan diri sendiri.
Hanya saja, iman tidak tetap. Terkadang naik atau turun, dan ketika turun aku merasa sakit dan sesak seperti sekarang ini.
Tapi bagaimanapun, aku yakin setelah kesulitan ada kemudahan dan ujian datang sesuai dengan kemampuan yang diuji.
Be strong nis!!!
Hidup berjalan terus, tidak berakhir disini :)
Salam.